Anak muda sangat sering dibicarakan ketika kita menyinggung masa depan masjid. Di satu sisi, mereka dianggap sibuk dengan gawai dan dunia digital; di sisi lain, hampir semua program Smart Mosque, Smart Surau, dan masjid digital membutuhkan energi, kreativitas, dan literasi teknologi yang justru dimiliki generasi ini. Pertanyaannya, mungkinkah Smart Mosque benar‑benar hidup tanpa peran anak muda?
Menurut saya, Smart Mosque tanpa keterlibatan serius pemuda hanya akan menjadi proyek jangka pendek. Yang kita butuhkan adalah masjid yang memberi ruang pada anak muda untuk berkarya dengan teknologi, sambil tetap dijaga oleh hikmah generasi yang lebih senior.
Masjid hari ini berada di tengah generasi digital
Realitasnya, generasi milenial dan Gen Z tumbuh dengan internet, media sosial, dan aplikasi di genggaman tangan. Mereka mencari jadwal kajian di Instagram, menyimak ceramah di YouTube, dan berdiskusi agama di ruang digital. Beberapa artikel dan kajian menyebut masjid sebagai calon “pusat peradaban digital” yang mampu menyambut generasi ini, bukan menolaknya.
Di beberapa daerah, kita sudah melihat contoh konkret. Program Smart Surau di Padang, misalnya, bukan hanya memasang WiFi, tapi juga menyiapkan pembelajaran digital dan aktivitas untuk anak muda di area masjid. Islamic Center Kaltim menggarisbawahi pentingnya ikatan pemuda dan remaja masjid sebagai jembatan antara nilai Islam dan kebutuhan generasi masa kini, termasuk dalam pemanfaatan media digital untuk dakwah dan pengelolaan masjid. Semua ini menunjukkan satu hal: jika masjid ingin tetap relevan, ia tidak bisa mengabaikan dunia digital—dan di situlah pemuda paling siap membantu.
Anak muda membawa energi, ide, dan skill digital
Banyak tulisan menegaskan bahwa pemuda memiliki tiga aset utama untuk memakmurkan masjid di era digital: kemampuan teknologi, kreativitas, dan jaringan. Mereka lebih terbiasa dengan pembuatan konten video, desain, manajemen media sosial, bahkan pengembangan website atau aplikasi sederhana.
Peran konkret yang mulai terlihat antara lain:
Mengambil dokumentasi dan menyiarkan kajian masjid secara live streaming atau rekaman, sehingga dakwah menjangkau jamaah yang berhalangan hadir.
Mengelola akun media sosial masjid, membuat poster digital, dan menginformasikan kegiatan dengan bahasa dan visual yang dekat dengan teman sebayanya.
Membantu proses digitalisasi manajemen, misalnya membuat sistem informasi masjid, mengelola data donasi, atau mengoperasikan aplikasi resmi Dewan Masjid dan platform sejenis.
Penelitian tentang digitalisasi manajemen masjid juga menyoroti bahwa pemuda yang paham teknologi dapat menjadi motor penggerak implementasi sistem informasi dan pelaporan digital, karena mereka lebih nyaman bekerja dengan aplikasi, dashboard, dan data. Dalam konteks Smart Mosque, they are not just “users”, but potential co‑developers.
Tantangan: gap generasi dan ruang yang belum dibuka
Meski potensinya besar, faktanya belum semua remaja masjid merasa benar‑benar dilibatkan. Sebuah studi tentang aktivitas remaja masjid di era digital mencatat bahwa masih banyak pengurus muda yang belum optimal menunjukkan eksistensinya di masjid, antara lain karena kesibukan, kurangnya dukungan, dan tidak adanya ruang peran yang jelas. Tulisan lain menggambarkan tantangan berupa turunnya semangat, pengurus yang tidak aktif, serta minimnya komunikasi intensif antara takmir dan remaja masjid.
Dari sisi generasi yang lebih tua, ada juga kekhawatiran yang wajar: takut masjid “kebanyakan konten”, khawatir acara jadi terlalu ramai gaya, atau ragu dengan stabilitas dan keseriusan anak muda. Kadang, anak muda hanya dilibatkan sebagai “panitia sekali pakai” untuk event besar, bukan sebagai bagian dari struktur pengambilan keputusan, terutama di ranah digital dan teknologi.
Menurut saya, di sinilah letak persoalan: kita mengharapkan pemuda memakmurkan masjid, tetapi belum sepenuhnya memberikan mandat, kepercayaan, dan infrastruktur untuk mereka bergerak secara berkelanjutan.
Jalan tengah: tim digital masjid yang lintas generasi
Solusi yang saya lihat paling realistis adalah membangun tim digital masjid yang secara resmi diakui, berada di bawah naungan takmir, dan diisi mayoritas anak muda namun tetap didampingi oleh pembina dari generasi yang lebih senior. Beberapa artikel dan kegiatan pelatihan menunjukkan bahwa pola kolaborasi seperti ini dapat memperkuat peran masjid sebagai ruang pembinaan profesional di era Society 5.0.
Dalam tim semacam ini, pemuda bisa mengerjakan hal-hal yang mereka kuasai: produksi konten dakwah, pengelolaan website dan media sosial, pengembangan atau pengoperasian aplikasi masjid, hingga pelatihan literasi digital bagi jamaah. Sementara itu, para pembina senior memberikan arah, memastikan konten tetap lurus secara akidah dan adab, dan menjaga agar teknologi tidak menggeser ruh ibadah.
Contoh yang menarik datang dari Islamic Center Kaltim yang menempatkan ikatan pemuda dan remaja masjid sebagai pilar regenerasi, pengelola konten dakwah digital, sekaligus motor digitalisasi manajemen masjid. Di sisi lain, artikel tentang “Peran Pemuda dalam Memakmurkan Masjid di Era Digital” menegaskan bahwa pemuda perlu dilibatkan langsung dalam ketakmiran, bukan hanya sebagai pelaksana teknis. Ini menunjukkan bahwa ketika pemuda diberi ruang struktural yang jelas, kontribusinya tidak berhenti di desain poster atau live streaming, tetapi ikut menentukan arah program masjid.
Smart Mosque yang ramah pemuda: manfaat untuk dua arah
Masjid yang membuka diri terhadap peran pemuda di ranah digital justru mendapat dua keuntungan sekaligus. Pertama, masjid lebih hidup dan relevan di mata generasi yang sering merasa masjid hanya “milik” orang tua. Kegiatan menjadi lebih variatif: ada kajian, ada pelatihan soft skill, ada program literasi digital, dan bahkan bisa ada pelatihan keterampilan seperti desain grafis atau coding yang dibungkus dengan nuansa Islami.
Kedua, pemuda sendiri mendapatkan ruang pembinaan yang sangat berharga. Mereka belajar mengelola organisasi, memegang amanah, berkomunikasi lintas usia, dan memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang bermanfaat, bukan sekadar hiburan. Program-program pelatihan remaja masjid di berbagai daerah menekankan pentingnya transformasi SDM remaja masjid menjadi pelayan umat yang profesional di era digital.
Dalam konteks Smart Mosque, sinergi ini ideal: pemuda menjadi operator dan pengembang teknologi, sementara masjid menjadi “lab kehidupan” yang mengarahkan kemampuan teknis mereka ke arah dakwah, pendidikan, dan penguatan umat.
Smart Mosque butuh tangan dan hati anak muda
Bagi saya, Smart Mosque bukan hanya soal sensor, aplikasi, dan layar digital di dinding masjid. Ia juga soal siapa yang berdiri di belakang semua itu. Tanpa pemuda yang siap belajar, berlatih, dan mengabdi, teknologi hanya akan menjadi perangkat yang menunggu rusak.
Karena itu, pertanyaannya mungkin perlu kita balik: bukan “bagaimana anak muda bisa masuk ke Smart Mosque?”, tetapi “apakah masjid kita sudah cukup ramah dan terbuka untuk menjadikan pemuda sebagai mitra utama dalam proses menjadi Smart Mosque?”. Jika jawabannya belum, maka inilah saat yang tepat bagi takmir dan jamaah untuk membuka pintu lebih lebar, membentuk tim digital lintas generasi, dan menjadikan masjid sebagai rumah kedua bagi anak-anak muda yang ingin berkarya dengan iman dan teknologi sekaligus.
Referensi / Bacaan Terkait
- Islamic Center Kaltim. "Peranan Ikatan Pemuda dan Remaja Masjid Dalam Memakmurkan Masjid di Era Digital". 2025. https://islamiccenterkaltim.org/posts/detail/peranan-ikatan-pemuda-dan-remaja-masjid-dalam-memakmurkan-masjid-di-era-digital
- Tagar.co. "Peran Pemuda dalam Memakmurkan Masjid di Era Digital". 2025. https://tagar.co/peran-pemuda-dalam-memakmurkan-masjid-di-era-digital/
- Surau.co. "Smart Mosque: Masjid Digital untuk Pendidikan dan Dakwah". 2025. https://www.surau.co/2025/09/34156/smart-mosque-sebagai-ruang-pendidikan-dan-dakwah-digital/
- Kemenag Samarinda. "Masjid Sebagai Pusat Peradaban Digital: Menyambut Generasi Milenial dan Gen Z". 2025. https://kemenagsamarinda.id/artikel/masjid-sebagai-pusat-peradaban-digital-menyambut-generasi-milenial-dan-gen-z
- N. N. (Bangka). "Strategi Peningkatan Aktivitas Remaja Masjid di Era Digital". 2025. http://repository.iainsasbabel.ac.id/id/eprint/3449/
- D. W. Fitria, dkk. "Digitalisasi Manajemen Masjid Dalam Membangun Efisiensi dan Transparansi". 2024. https://ejournal.iprija.ac.id/index.php/Ad-DAWAH/article/view/147
- JERKIN. "Program Pelatihan Digital Marketing untuk Remaja Masjid: Menciptakan Enterpreneur Muda Islami di Desa Karyamekar Pasirwangi Garut". 2026. https://jerkin.org/index.php/jerkin/article/view/5253
- UIN RM Said Surakarta. "Transformasi Manajemen SDM Remaja Masjid dalam Era Society 5.0". 2024. https://md.uinsaid.id/pkm-md-transformasi-manajemen-sumber-daya-manusia-remaja-masjid-dalam-era-society-5-0/
- DMI. "Aplikasi Dewan Masjid, Solusi Cerdas di Era Digital". 2023. https://dmi.or.id/aplikasi-dewan-masjid-solusi-cerdas-di-era-digital/
Penulis: Safiq Rosad
2026