Belajar dari Riset IoT Pengatur Volume Masjid: Bukan Cuma Soal Toa, tapi Soal Data

Belajar dari Riset IoT Pengatur Volume Masjid: Bukan Cuma Soal Toa, tapi Soal Data

Setiap kali muncul berita soal kebisingan masjid, komentarnya biasanya berkisar di dua kutub: “itu syiar, biarkan saja keras” dan “tetangga juga butuh istirahat, tolong pelankan”. Jarang sekali diskusinya menyentuh level teknis: seberapa keras sebenarnya? Di jarak berapa? Bisa diukur atau tidak? Di sinilah riset‑riset tentang IoT untuk audio masjid memberi perspektif baru: urusan volume toa ternyata bisa dibawa ke meja data, bukan hanya perasaan.

Riset yang mencoba “mendamaikan” volume antar masjid
Sebuah artikel di International Journal of Electrical and Computer Engineering (IJECE) mengusulkan sistem kontrol level suara berbasis IoT untuk komunitas masjid. Fokusnya bukan mengatur satu masjid secara terpisah, tetapi beberapa masjid sekaligus dalam satu kawasan.
Sketsanya kira‑kira begini: setiap masjid dipasangi node IoT yang terhubung ke amplifier. Sistem mengirim nada uji (test tone) secara bergantian dari masing‑masing masjid dan mengukur jarak efektif antar masjid berdasarkan respons suara yang diterima. Dari data itu, sistem menghitung level suara yang ideal untuk tiap masjid, agar area yang perlu tercakup tetap terlayani, namun tumpang tindih (overlap) antar zona suara bisa diminimalkan.
Hasil pengujian mereka menunjukkan bahwa pendekatan ini memungkinkan pengaturan level amplifier secara otomatis sesuai konfigurasi jarak dan kebutuhan area. Dalam simulasi dan studi kasus, sistem berhasil menurunkan potensi kebisingan di titik‑titik tertentu tanpa mengorbankan jangkauan azan dan pengumuman di wilayah masing‑masing masjid. Pesan besarnya: pengaturan volume tidak harus serba manual; ia bisa dibantu algoritma yang mempertimbangkan posisi dan jarak antar masjid.

Dari “kira‑kira” ke angka: monitoring kebisingan di sekitar masjid
Riset lain yang lebih membumi menggarap aspek monitoring. Sebuah studi di AJIE (Asean Journal of Islamic Education) mengembangkan sistem IoT monitoring pengeras suara masjid. Intinya: mereka membuat alat portable yang mengukur tingkat kebisingan (dalam dB) di sekitar masjid pada berbagai jarak, kemudian mengirim data itu ke server untuk dianalisis.
Dalam penelitian itu, perangkat diujikan pada jarak 5, 20, 50, dan 100 meter dari masjid. Hasilnya menunjukkan error rata-rata sekitar 1,84 dB dibandingkan sound level meter referensi. Akurasinya dianggap cukup untuk keperluan praktis, misalnya:
Membantu takmir mengetahui apakah suara di radius tertentu masih dalam batas nyaman atau sudah terlalu tinggi.

Membandingkan kondisi sebelum dan sesudah penyesuaian volume atau penataan ulang speaker.
Penulis studi tersebut juga menyandingkan idenya dengan pedoman Kementerian Agama tentang batas volume pengeras suara di masjid, yang menyebut angka maksimal sekitar 100 dB di titik pengukuran tertentu. Di sini, alat IoT berperan sebagai “termometer suara”: memberikan angka yang jelas sehingga diskusi tidak lagi sekadar “menurut saya sudah pelan” atau “menurut saya masih keras”, tetapi berdasar pengukuran.
Di luar konteks masjid, berbagai proyek open source juga menunjukkan bahwa membuat IoT sound level meter bukanlah sesuatu yang mustahil bagi maker: kombinasi modul ESP8266/NodeMCU, sensor suara, dan platform seperti ThingSpeak, Blynk, atau Arduino IoT Cloud sudah cukup untuk memantau kebisingan secara real time.

Apa artinya bagi takmir dan pegiat Smart Mosque?
Kalau kita tarik ke praktik di lapangan, saya melihat setidaknya tiga pelajaran penting dari rangkaian riset ini.
Pertama, pengelolaan audio bisa (dan sebaiknya) berbasis data. Takmir tidak perlu menjadi akustisi profesional untuk mulai mengukur; memiliki satu alat monitoring sederhana saja sudah langkah besar. Mereka bisa mencatat pola: di jam berapa kebisingan tertinggi, di titik mana volume terasa berlebihan, dan bagaimana perubahan setelah penyesuaian dilakukan.
Kedua, konsep zonasi dan komunitas masjid saling terhubung. Riset IJECE menunjukkan bahwa idealnya, pengaturan level suara mempertimbangkan keberadaan masjid lain di sekitar, bukan hanya ruangan internal. Bagi pengembang Smart Mosque, ini memberi inspirasi: sistem kontrol terdistribusi di masa depan mungkin perlu mengkomunikasikan status antar masjid, bukan hanya antar zona di satu masjid.
Ketiga, IoT bukan sekadar proyek hobi, tapi alat bantu pengambilan keputusan. Ketika data kebisingan direkam dan divisualisasikan, takmir punya bahan objektif untuk berdialog dengan jamaah dan warga sekitar. Misalnya, menunjukkan bahwa setelah penataan ulang speaker dan penyesuaian volume, level kebisingan di malam hari turun sekian dB. Ini jauh lebih persuasif daripada sekadar berkata “sudah kami kecilkan kok”.

Menghubungkannya dengan visi Smart Audio 
Jika dikaitkan dengan visi Smart Mosque Audio, riset‑riset ini sebenarnya menyediakan “batu loncatan”:
Node audio terdistribusi di tiap sudut masjid bisa dilengkapi sensor suara lokal yang memonitor respons ruangan, lalu mengirim data itu ke node master.
Node master tidak hanya mengontrol gain amplifier, tetapi juga menjalankan algoritma optimasi berdasarkan feedback sensor dan, bila perlu, data dari masjid tetangga.
Semua itu dapat dipantau lewat dashboard yang ramah takmir di smartphone: status zona, level suara, log perubahan, bahkan rekomendasi penyesuaian.

Referensi / Bacaan Terkait

  1. F. M. A. Zabidi, dkk. "IoT-based sound-level control for audio amplifiers: mosques as a case study". International Journal of Electrical and Computer Engineering (IJECE), 2022. https://ijece.iaescore.com/index.php/IJECE/article/view/24816 
  2. ​N. Syafiyana, P. P. Iqbal. "IoT Sistem Monitoring Pengeras Suara Masjid (Studi kasus …)". AJIE, 2022. https://journal.uii.ac.id/ajie/article/view/28616 
  3. Kelompok 12 UII. "SOULME (Sistem IoT Monitoring Pengeras Suara Masjid)". Video YouTube, 2021. https://www.youtube.com/watch?v=Aa6oH2sXA7c 
  4. ​How2Electronics. "IoT Sound Level Monitor with ESP8266 & Sound Module". 2021. https://how2electronics.com/iot-sound-level-monitor-esp8266-sound-module/ 
  5. Kementerian Agama RI. "Surat Edaran Menteri Agama No. 5 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala". 2022. https://yogyakartakota.kemenag.go.id/wp-content/uploads/2022/02/SE-MENTERI-AGAMA-NO-5-TAHUN-2022-1.pdf 


Penulis: Safiq Rosad
2026