Beberapa tahun terakhir, istilah Smart Mosque dan masjid digital muncul di mana-mana. Ada program Smart Surau yang menghadirkan WiFi, ruang belajar digital, dan monitoring kegiatan berbasis barcode; ada pula aplikasi manajemen masjid yang mengurus keuangan, jadwal, sampai pengumuman ke jamaah. Di titik ini, wajar kalau muncul pertanyaan: apakah semua masjid memang perlu menjadi Smart Mosque?
Menurut saya, jawabannya: tidak semua harus langsung “super digital”, tetapi setiap masjid perlu beradaptasi secukupnya dengan teknologi agar tetap relevan dan bermanfaat bagi jamaah.
Masjid sekarang hidup di tengah ekosistem digital
Realitasnya, jamaah masjid hari ini hidup di dunia yang serba tersambung. Informasi kegiatan sering dicari lewat WhatsApp dan media sosial, anak muda belajar lewat video dan aplikasi, dan banyak urusan keuangan sudah berpindah ke transaksi digital. Kalau masjid sama sekali tidak menyentuh ranah ini, ada risiko ia terasa jauh dari kehidupan sehari‑hari jamaahnya, terutama generasi muda.
Berbagai program seperti Smart Surau di Padang, aplikasi eMasjid, atau platform manajemen masjid lain menunjukkan satu hal penting: teknologi bisa membantu masjid mengelola data jamaah, keuangan, dan jadwal kegiatan dengan lebih rapi dan transparan. Penelitian tentang digitalisasi manajemen masjid juga menemukan bahwa pemanfaatan aplikasi dan media digital mampu meningkatkan efisiensi administrasi sekaligus membangun kepercayaan, karena laporan keuangan dan kegiatan dapat diakses secara jelas.
Dari sisi ini, sulit untuk menolak bahwa “sedikit digitalisasi” hampir pasti bermanfaat. Minimal, masjid bisa memanfaatkan teknologi untuk menyampaikan informasi lebih cepat dan mengurangi pekerjaan manual yang berulang.
Risiko ketika semua dikejar jadi “pintar”
Di sisi lain, mengejar label Smart Mosque tanpa perencanaan juga punya konsekuensi. Tidak semua masjid punya SDM yang siap mengelola sistem digital, mulai dari pengurus yang paham teknologi sampai tim yang sanggup merawat perangkat. Ada penelitian yang menyoroti tantangan manajemen masjid di era digital: pengetahuan pengurus yang belum merata, keterbatasan dana, dan risiko kesenjangan antara jamaah yang melek teknologi dan yang tidak.
Pengalaman di beberapa tempat juga menunjukkan bahwa proyek digitalisasi kadang berhenti di tengah jalan. Website masjid tidak diperbarui, aplikasi tidak lagi digunakan, atau perangkat hanya menyala sesaat menjelang peresmian. Ini sering terjadi ketika teknologi didorong dari atas (program, hibah, proyek), tetapi tidak diikuti oleh pendampingan dan kesiapan pengurus di level akar rumput.
Ada pula kekhawatiran lain: jangan sampai masjid terlalu sibuk dengan perangkat sampai lupa dengan ruh ibadah dan kualitas interaksi manusia. Diskusi tentang “digital faith” mengingatkan bahwa teknologi hanyalah sarana; ia bisa mendukung kedekatan dengan Allah, tetapi juga bisa mengalihkan fokus jika tidak ditempatkan pada posisi yang tepat.
Jalan tengah: masjid adaptif, bukan sekadar “pintar”
Karena itu, saya cenderung setuju dengan pendekatan bertahap dan kontekstual. Bukan semua masjid harus langsung menjadi Smart Mosque dengan paket lengkap, melainkan: setiap masjid perlu menjadi masjid adaptif yang memanfaatkan teknologi sesuai kebutuhan jamaah dan kemampuan pengelolanya.
Masjid di pusat kota dengan banyak remaja dan aktivitas pendidikan mungkin sangat cocok dengan konsep ruang belajar digital, WiFi, dan aplikasi pendukung. Program Smart Surau misalnya, menggunakan aplikasi, tablet, dan sistem monitoring untuk membina generasi muda melalui kegiatan subuh dan pembelajaran digital—dan itu bekerja karena ada dukungan pemerintah, guru, dan pengurus masjid.
Sementara itu, masjid kecil di kampung bisa mulai dari hal yang lebih sederhana dan langsung terasa manfaatnya: digitalisasi laporan keuangan, sistem informasi kegiatan yang lebih terstruktur, atau pengelolaan jadwal dan audio yang lebih rapi. Studi kasus digitalisasi masjid menunjukkan bahwa langkah seperti ini saja sudah cukup signifikan untuk meningkatkan transparansi dan memudahkan regenerasi pengurus.
Mulai dari masalah, bukan dari alat
Menurut saya, kuncinya bukan pada seberapa canggih teknologi yang dipasang, tetapi seberapa jelas masalah yang ingin diselesaikan. Apakah masjid sedang kesulitan mengatur keuangan secara transparan? Apakah jamaah sering tidak tahu jadwal kajian? Apakah pengurus kewalahan mengelola data donatur, kegiatan, dan inventaris? Atau apakah suara masjid sering dikeluhkan warga sekitar karena terlalu keras?
Jika masalahnya adalah tata kelola, maka aplikasi manajemen masjid dan digitalisasi laporan bisa jadi prioritas. Jika masalahnya adalah pendidikan dan keterlibatan generasi muda, maka ruang belajar digital, WiFi yang diawasi, dan program seperti Smart Surau bisa jadi lebih relevan. Jika masalahnya adalah audio dan kenyamanan ibadah, maka langkah pertama mungkin bukan aplikasi, tetapi penataan ulang sistem sound, zonasi suara, dan kontrol berbasis sensor seperti yang diteliti di sejumlah studi tentang masjid dan IoT.
Teknologi yang dipilih harus mengikuti kebutuhan, bukan sebaliknya. Di sinilah riset dan pengalaman lapangan yang Anda miliki tentang Smart Mosque dan Smart Audio bisa menjadi panduan penting: membantu takmir membaca masalah, baru kemudian menawarkan solusi digital yang tepat.
Tidak semua harus smart, tapi semua perlu berbenah
Jadi, perlukah semua masjid menjadi Smart Mosque? Menurut saya, tidak wajib dalam arti penuh fitur dan label. Namun setiap masjid, sekecil apa pun, perlu berbenah dengan memanfaatkan teknologi pada tingkat yang mereka mampu, agar fungsi ibadah, pendidikan, sosial, dan pengelolaannya berjalan lebih baik.
Smart Mosque idealnya bukan hanya soal hardware dan aplikasi, tetapi tentang bagaimana masjid menjadi lebih transparan, lebih tertib, lebih ramah generasi muda, dan lebih kuat perannya sebagai pusat peradaban di tengah masyarakat digital. Kalau itu yang kita jadikan ukuran, maka fokus kita bukan mengejar sertifikat “smart”, melainkan membantu setiap masjid menemukan versi terbaik dirinya di era teknologi.
Penulis: Safiq Rosad
Februari, 2026