CALL NOW : (0274) 6498 534, 0821 3814 1118
  • Home
  • About
  • Contact
  • PRODUCT
    • JADWAL SHOLAT (JWS-02M)
    • JADWAL SHOLAT (JWS-02)
    • BEL SEKOLAH (BS-108MP)
    • BEL SEKOLAH (BSE-156)
    • CERDAS CERMAT (BCC-02)
    • MOVING SIGN
    • JAM DIGITAL (JD-7S4KLD1)
    • JAM DIGITAL (JD-9i4DL)
    • JAM DIGITAL (JD-7S6)
    • SCOREBOARD (SC-150)
  • BLOG
  • PORTFOLIO
    • PERIODE 2008
  • DOWNLOAD

Archives

All Posts Tagged Tag: ‘Electronics’

Home / Tag: Electronics

Files in Media Electronics Comments Off



Files in Media Electronics

 Read More
Posted on: 10-28-2009
Posted in: Electronics

Pembangkit Pulsa Clock Comments Off

Flip-flop dan pencacah selalu membutuhkan pulsa clock untuk memicunya. Pulsa clock ini bisa dibangkitkan oleh manusia dengan menekan suatu sakelar tekan (push button switch), bisa juga bersumber dari suatu osilator yang membangkitkan deretan pulsa dengan frekuensi tertentu. Syarat yang harus dipenuhi oleh pulsa clock ini antara lain ialah :

· Memiliki simpangan yang sesuai dengan perangkat logika yang digunakan

· Mempunyai frekuensi dalam kisaran sesuai dengan perangkat logika yang digunakan

· Bebas kerut

Agar sesuai dengan perangkat logika yang digunakan maka simpangan tegangan dari pulsa clock harus sesuai dengan kisar tegangan masukan yang dibutuhkan oleh perangkat logika yang digunakan. Sebagai contoh, TTL membutuhkan pulsa clock yang berkisar dari 0 hingga +5 Volt.

Pada CMOS kisar tegangan ini harus sesuai dengan tegangan catu yang digunakan. Jika tegangan catu yang digunakan adalah 15 Volt, maka pulsa clock harus berkisar dari 0 hingga +15 Volt.

Jika pulsa clock yang dibangkitkan oleh osilator, maka frekuensi dari clock ini harus berada dalam kisaran frekuensi yang mampu diikuti oleh perangkat logika yang digunakan. Sebagai contoh, pada TTL standard, frekuensi clock harus < 20 MHz karena perangkat TTL standard mempunyai kecepatan switching maksimum 20 MHz.

Pembangkitan pulsa dengan rangkaian debouncing

Pada beberapa pemakaian, pulsa ini dibangkitkan dengan menekan sebuah sakelar tekan dimana satu pulsa dibangkitkan setiap kali tombol ditekan. Sakelar yang digunakan umumnya adalah sakelar mekanis yang terdiri dari satu pasang atau lebih kontak diam dan kontak gerak. Pada saat sakelar ditekan, kontak gerak akan bergerak dan terhubung dengan kontak diam.  Pada saat menyentuh kontak diam, kontak gerak ini akan dipantulkan beberapa kali sebelum akhirnya diam.  Hal ini disebabkan oleh sifat elastis dari kedua kontak tersebut. Keadaan ini adalah sama dengan sebuah bola yang dibanting ke tanah, dimana bola tersebut akan memantul beberapa kali sebelum akhirnya diam.   Pantulan ini dikenal sebagai bouncing dan meninbulkan masalah pada pembangkitan pulsa clock. Akibat bouncing maka untuk satu kali penekanan sakelar akan dibangkitkan beberapa pulsa clock.  Kondisi ini diperlihatkan pada Gambar 8.1.

Gambar Rangkaian pembengkit clock dan tegangan keluarannya

Jika sakelar pada Gambar 8.1a tidak ditekan maka inverter akan mendapat masukan logika tinggi sehingga keluarannya (VO) akan rendah.  Jika sakelar ditekan maka masukan inverter akan rendah sehingga keluarannya akan tinggi.  Tetapi jika kontak gerak dipantulkan maka hubungannya dengan kontak diam akan terputus sesaat untuk kemudian tersambung lagi.  Akibatnya keluaran inverter akan rendah sesaat dan kemudian tinggi kembali.  Hal ini akan terulang beberapa kali sampai proses pemantulan ini berakhir.   Akibat pemantulan ini maka bentuk tegangan keluaran adalah seperti yang diperlihatkan pada Gambar 8.1b. Hal ini tentu saja tidak diinginkan karena jika digunakan pada pencacah, satu kali penekanan tombol akan mengakibatkan cacahan naik lebih dari satu.   Untuk mengatasi hal ini dapat digunakan rangkaian debouncing. Rangkaian ini akan mengeliminasi bouncing dengan memanfaatkan sifat flip-flop yang akan mempertahankan suatu keadaan sebelum mendapat perintah untuk berubah ke keadaan lain melalui masukan yang sesuai.  Sebagai contoh, suatu flip-flop akan set dan seterusnya set sebelum mendapat pulsa pada masukan reset-nya.  Demikian pula sebaliknya. Rangkaian debouncing ini diperlihatkan pada Gambar 8.2.

Gambar Rangkaian pembangkit pulsa clock dengan debouncing

Pada rangkaian ini digunakan sebuah sakelar satu kutub dua kedudukan dan dua gerbang NAND jenis TTL yang membentuk sebuah flip-flop. Karena gerbang adalah TTL maka masukan yang terbuka akan berlogika tinggi.  Dalam hal ini jika sakelar tidak ditekan maka kontak gerak selalu terhubung ke kontak-A sehingga kontak ini selalu berlogika rendah dan kontak-B yang terbuka selalu berlogika tinggi. Akibatnya flip-flop selalu akan di-reset.

Jika sakelar ditekan maka kontak gerak akan beralih dari kontak-A ke kontak-B, sehingga flip-flop akan set dan keluaran Q akan tinggi.  Jika kontak gerak dipantulkan beberapa kali oleh kontak-B maka flip-flop akan mendapat pulsa SET sebanyak pantulan ini.  Tetapi hal ini tidak berakibat apa-apa karena flip-flop yang sedang set akan tetap set jika diberi pulsa SET.  Jika sakelar dilepas maka kontak diam akan kembali terhubung dengan kontak-A.  Pada sentuhan pertama dari kedua kontak ini flip-flop akan di-reset.  Jika terjadi pantulan maka flip-flop akan menerima pulsa RESET berulang-ulang namun flip-flop akan tetap dalam keadaan reset karena pemberian pulsa RESET pada flip-flop yang sedang reset tidak akan mempengaruhi keadaan flip-flop.  Bentuk pulsa masukan dan keluaran dari rangkaian ini adalah seperti yang diperlihatkan pada Gambar 8.3.

Gambar 8.3 Bentuk pulsa masukan dan keluaran rangkaian debouncing

Pembangkitan pulsa dengan MMV

Pada pembangkitan pulsa yang dibahas sebelumnya, panjang pulsa yang dihasilkan adalah sama dengan lamanya penekanan sakelar.  Jika sakelar ditekan untuk waktu singkat maka pulsa yang dihasilkan juga akan singkat.  Jika sakelar ditekan untuk waktu yang terlalu singkat maka ada kemungkinan bahwa lebar pulsa yang dihasilkan tidak cukup untuk memicu rangkaian yang harus dipicu. Untuk mengatasi masalah ini harus digunakan suatu rangkaian MMV (monostable multi vibrator). Rangkaian MMV ini aka membangkitkan satu pulsa setiap kali dipicu dimana lebar pulsa adalah tetap dan tidak tergantung pada lamanya penekanan sakelar. Beberapa keluarga logika menyediakan piranti yang khusus dirancang untuk keperluan ini. Salah satu contohnya ialah SN74121 dari keluarga TTL yang diperlihatkan pada Gambar 8.4.

Gambar Rangkaian SN74121

Pada IC ini disediakan tiga masukan untuk pemicuan, yaitu A1, A2 dan B. Persamaan untuk pemicuan ini adalah :

Jadi untuk memicu MMV ini A1 atau A2 atau keduanya harus rendah dan B harus tinggi. Jika sumber pemicuan adalah tinggi maka sumber dapat dihubungkan B sementara A1 atau A2 atau keduanya dibuat rendah. Sealiknya jika sumber pemicuan rendah maka sumber dapat dihubungkan ke A1 atau A2 ata keduanya sementara B dibuat tinggi.

Lebar pulsa yang dihasilkan ditentukan oleh nilai tahanan dan kapasitor eksternal ( RX dan CX) dan dapat dinyatakan sebagai :

tW = 0,69 RX CX

Selain dari SN74121 dari keluarga TTL, IC jenis LM555 juga dapat digunakan sebagai MMV untuk membangkitkan pulsa. IC ini pada awalnya dirancang untuk digunakan sebagai pewaktu tetapi belakangan ternyata bahwa IC ini memiliki banyak sekali kegunaan lain sehingga dapat dianggap sebagai IC serbaguna.  Contoh rangkaian penggunaan IC ini dapat dilihat pada Gambar 8.5.

Lebar pulsa yang dihasilkan ialah :

tW = 0,693 RX CX

IC ini mempunyai banyak kelebihan, antara ialah kisar catu dayanya yang lebar, yaitu dari 5 sampai 15 Volt sehingga dapat digunakan pada rangkaian TTL atau CMOS. Kelebihan lain ialah keluarannya yang dapat mengeluarkan atau menarik arus sampai 200 mA.

Gambar Rangkaian LM555

Rangkaian MMV dapat juga dibangun dengan menggunakan gerbang logika standard seperti NAND atau NOR.  Contoh rangkaian dengan menggunakan gerbang NAND dapat dilihat pada Gambar 8.6.

Gambar Rangkaian MMV dengan gerbang NAND

Gerbang-gerbang yang digunakan disini adalah jenis CMOS untuk mendapatkan impedansi masukan yang besar. Ini perlu agar arus pengisian dan pengosongan dari kapasitor C hanya ditentukan oleh tegangan keluaran gerbang dan tahanan R. Pada saat tidak menerima trigger, keluaran N2 selalu tinggi karena kedua masukannya dibumikan oleh tahanan R sehingga berlogika rendah.  Karena keluaran ini diumpanbalikkan ke N1 dan masukan kedua diberi logika tinggi oleh tahanan R1 maka keluaran N1 akan rendah.  Begitu masukan trigger rendah maka masukan-2 dari N1 akan rendah selama t1 sehingga keluaran N1 akan naik.  Lamanya t1 ini rendah ditentukan oleh nilai R1 dan C1. Kenaikan keluaran N1 akan membuat kedua masukan N2 tinggi selama t2 sehingga keluarannya menjadi rendah.  Lamanya t2 ditentukan oleh nilai RX dan CX. Rendahnya keluaran N2 ini akan membuat masukan-1 dari N1 rendah sehingga keluarannya tetap tinggi walaupun masukan-2 telah tinggi kembali.  Dengan demikian maka lebar pulsa yang dihasilkan tidak tergantung pada R1 dan C1, tetapi hanya ditentukan oleh RX dan CX. Lebarnya pulsa ini adalah sekitar :

tW ? 0,7 RX CX

Rangkaian ini dapat juga diimplementasikan dengan menggunakan gerbang NOR seperti yang diperlihatkan pada Gambar

Gambar Rangkaian MMV dengan gerbang NOR

Prinsip kerja rangkaian ini sama dengan rangkaian pada Gambar 8.6.  Perbedaannya ialah pada rangkaian ini dibutuhkan pulsa trigger positip dan pulsa keluaran yang dihasilkan adalah pulsa positip.  Lebar pulsa yang dihasilkan adalah :

tW ? 0,7 RX CX

Posted on: 10-27-2009
Posted in: Electronics

Rangkaian osilator Comments Off

Pada beberapa rangkaian dibutuhkan sederetan pulsa clock dengan frekuensi tertentu. Deretan pulsa clock ini dapat dibangkitkan dengan menggunakan suatu osilator yang dibentuk dengan menggunakan gerbang logika ataupun dengan menggunakan piranti lain seperti LM555 yang pada awalnya dirancang unutk digunakan sebagai pewaktu (timer).

Read More

Posted on: 10-27-2009
Posted in: Electronics

Jenis-Jenis Motor DC Comments Off

Berdasarkan sumber arus penguat magnetnya, motor DC dapat dibedakan atas :

a. Motor DC penguat terpisah, bila arus penguat magnet diperoleh dari sumber DC diluar motor

b. Motor DC dengan penguat sendiri, bila arus penguat magnet berasal dari motor itu sendiri

Berdasarkan hubungan lilitan penguat magnet terhadap lilitan jangkar motor DC dengan penguat sendiri dapat dibedakan :

- Motor shunt

- Motor seri

- Motor kompon

Pada pemilihan (penggunaan) motor DC harus disesuaikan dengan karakteristik dan konstruksi dari mesin.

Motor shunt

Motor shunt mempunyai kecepatan yang hampir konstan. Pada tegangan jepit (u) konstan, motor shunt mempunyai putaran hampir konstan walaupun terjadi perubahan beban. Perubahan kecepatan hanya sekitar 10 %. Misalnya untuk pemakaian kipas angin, blower, pompa centrifugal, elevator, pengaduk, mesin cetak, dan juga untuk pengerjaan kayu dan logam.

Gambar Rangkaian motor shunt

Motor Seri

Pada motor seri dapat memberi moment yang besar pada waktu start dengan arus start yang rendah. Juga dapat memberi perubahan kecepatan/beban dengan arus yang kecil dibandingkan dengan motor tipe lain, akan tetapi kecepatan menjadi besar bila beban rendah atau tanpa beban dan hal ini sangat berbahaya. Dengan mengetahui sifat ini dapat dipilih motor seri untuk daerah perubahan kecepatan yang luas, misalnya untuk traksi, pengangkat dan lain-lain.

Gambar Rangkaian Motor Seri

Motor Kompon

Motor kompon mempunyai sifat diantara motor seri dan shunt, tergantung mana yang kuat lilitannya (kumparan seri atau shunt-nya) namun pada umumnya mempunyai moment start yang besar, sehingga seperti pada motor seri perubahan kecepatan sekitar 25 % terhadap kecepatan tanpa beban. Misalnya untuk pemakaian pompa plunger, pemecah, bulldozer, elevator dan lain-lain.

Gambar  Rangkaian Motor Kompon

Posted on: 01-23-2009
Posted in: Electronics

Optocoupler Comments Off

Optocoupler merupakan gabungan dari LED infra merah dengan fototransistor yang terbungkus menjadi satu chips. Cahaya infra merah termasuk dalam gelombang elektromagnetik yang tidak tampak oleh mata telanjang. Sinar ini tidak tampak oleh mata karena mempunyai panjang gelombang berkas cahaya yang terlalu panjang bagi tanggapan mata manusia. Sinar infra merah mempunyai daerah frekuensi 1 x 1012 Hz sampai dengan 1 x 1014 GHz atau daerah frekuensi dengan panjang gelombang 1µm – 1mm.

Read More

Posted on: 01-21-2009
Posted in: Electronics

Transistor Sebagai Saklar Comments Off

Suatu saklar adalah suatu alat dengan dua sambungan dan bisa memiliki dua keadaan, yaitu keadaan on dan keadaan off. Keadaan off / tutup merupakan suatu keadaan yang mana tidak ada arus yang mengalir. Keadaan on / buka merupakan suatu keadaan yang mana arus bisa mengalir dengan bebas atau dengan kata lain tidak ada resistivitas dan besar tegangan saklar sama dengan nol.

Read More

Posted on: 01-6-2009
Posted in: Electronics

Sejarah Sistem Komunikasi Tanpa Kabel Comments Off

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0in; line-height: 200%; text-align: justify } –>

Sistem komunikasi tanpa kabel mengalami perkembangan yang sangat pesat pada beberapa dekade terakhir, karena adanya teknologi yang memungkinkan berkembangnya sistem spektrum tersebar. Dari sejarah perkembangan di bidang komunikasi bergerak terjadi sangat lambat dan berkaitan erat dengan pembauran teknologi. Kemampuan untuk menyediakan komunikasi tanpa kabel bagi seluruh populasi sangat sulit dibayangkan sampai Bell Laboratory mengembangkan konsep seluler pada tahun 1960 dan 1970. Dengan berkembangnya perangkat keras frekuensi radio benda padat pada tahun 1970-an, era komunikasi tanpa kabel telah dilahirkan.

Read More

Posted on: 01-6-2009
Posted in: Electronics

RF Power Transistors Comments Off

Referensi daftar transistor dalam kategori Transistor Power RF

Read More
Posted on: 01-6-2009
Posted in: Electronics

PLC (Programmable Logic Control) Comments Off

Programmable Logic Controller (PLC) adalah sebuah rangkaian elektronik yang dapat mengerjakan berbagai fungsi-fungsi kontrol pada level-level yang kompleks. PLC dapat diprogram, dikontrol, dan dioperasikan oleh operator yang tidak berpengalaman dalam mengoperasikan komputer. PLC umumnya digambarkan dengan garis dan peralatan pada suatu diagram ladder. Hasil gambar tersebut pada komputer menggambarkan hubungan yang diperlukan untuk suatu proses. PLC akan mengoperasikan semua siatem yang mempunyai output apakah harus ON atau OFF. Dapat juga dioperasikan suatu sistem dengan output yang bervariasi.

Read More

Posted on: 01-6-2009
Posted in: Electronics

Mencari Nilai Resistor Comments Off

Dalam perancangan elektronika, kita sering dan harus ketemu yang namanya resistor, dalam tahap awal mestinya kita dalam penerapan merancang sebuah alat perlu perhitungan-perhitungan yang tepat agar nantinya tidak berakibat buruk bagi komponen-komponen lainya, setelah kita menghitung dan menemukan nilai resistor yang tepat, selanjutnya ya beli ditoko elektronik, setelah sampai ditoko,,,, eng ing enggg….!!! Ternyata nilai resistor yang kita butuhkan tidak ada,.. mestinya kita balik menghitung lagi untuk memparalel atau menseri resistor yang diperlukan. Tapi seri/parallel itu juga belum tentu ada resistor penggandengnya….

Read More

Posted on: 01-6-2009
Posted in: Electronics
Page 1 of 41234»

Categories

Design and production electronic system
Categories
  • Application
  • Article
  • Download
  • Electronics
  • Microcontroller
  • Pinouts
  • Schematic
Galleries
  • Portfolio 1 Column
  • Portfolio 2 Columns
  • Portfolio 3 Columns
  • Portfolio 4 Columns
  • Galleria Shortcodes
  • Image Shortcodes
Product
  • Jadwal Waktu Sholat
  • Bel Sekolah Otomatis
  • Bel Cerdas Cermat
  • Jam Digital
  • Moving Sign
  • Scoreboard
ABOUT
  • About Us
  • Contact
  • Services
  • Showroom
    Jl. Wates KM.10 Bantul Yogyakarta 0274 6498 534 0821 3814 1118 shatomedia@gmail.com
    Count per Day
    • 37Visitors today:
    Contact
  • Agus Qurniadhi
  • Sindhu Harimukti
  • Safiq Rosyad
  • Sutarman
  • © 2012 SHATOMEDIA. All Rights Reserved