CALL NOW : (0274) 6498 534, 0821 3814 1118
  • Home
  • About
  • Contact
  • PRODUCT
    • JADWAL SHOLAT (JWS-02M)
    • JADWAL SHOLAT (JWS-02)
    • BEL SEKOLAH (BS-108MP)
    • BEL SEKOLAH (BSE-156)
    • CERDAS CERMAT (BCC-02)
    • MOVING SIGN
    • JAM DIGITAL (JD-7S4KLD1)
    • JAM DIGITAL (JD-9i4DL)
    • JAM DIGITAL (JD-7S6)
    • SCOREBOARD (SC-150)
  • BLOG
  • PORTFOLIO
    • PERIODE 2008
  • DOWNLOAD

Archives

All Posts Tagged Tag: ‘Cahaya’

Home / Tag: Cahaya

Alat pengatur Recomendasi Cahaya IV Comments Off

Berikut ini adalah potongan listing program masing – masing proses yang digunakan pada alat Indikator Intensitas Pencahayaan Berbasis Mikrokontroler AT89S52.

a. Inisialisasi LCD

Inisialisasi diperlukan untuk menentukan fungsi LCD, yaitu data yang digunakan 8 bit, kemudian menggunakan 2 baris serta huruf yang dipakai mode matriks 5×7. Berikut ini listing programnya.

Init_lcd:

mov r1,#00000001b ;Display clear

call tulis_inst

mov r1,#00111000b ;Function set,Data 8 bit,2 line font 5×7

call tulis_inst

mov r1,#00001100b ;Display on, cursor off,cursor blink off

call tulis_inst

mov r1,#00000110b ;Entry mode, Set increment

call tulis_inst

ret

b. Mikrokontroler sebagai pembaca sensor intensitas cahaya melalui ADC

Subrutin program ini digunakan untuk membaca data ADC melalui Port 2 mikrokontroler, kemudian mengkonversi data ADC yang masih dalam bilangan biner ke desimal. Berikut ini listing programnya :

;Mengambil data adc

;simpan ke accumulator

;======================================================

Baca_adc:

setb wri

setb re

call delay1

clr wri

call delay1

setb wri

jb itr,$

call delay1

clr re

mov a,p2

mov dataadc,a

setb re

ret

;konversi ke desimal 3 digit

;======================================================

Bin2Dec:

mov b,#100d

div ab

mov ratusan_100,a

mov a,b

mov b,#10d

div ab

mov puluhan_10,a

mov satuan_1,b

ret

c. Cek 8 saklar ruangan rumah tinggal

Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) jenis ruangan ada 8 untuk rumah tinggal, sehingga pengecekan saklar pemilihan ruangan yang akan dideteksi ada 8 pilihan, yaitu sebagai berikut.

1. Saklar untuk teras.

2. Saklar untuk ruang tamu.

3. Saklar untuk ruang makan.

4. Saklar untuk ruang kerja.

5. Saklar untuk kamar tidur.

6. Saklar untuk kamar mandi.

7. Saklar untuk dapur.

8. Saklar untuk garasi.

Berikut ini listing program untuk pemilihan saklar ruangan.

start:

Cek_teras:

jb push_1,cek_R_tamu

mov r4,#10

start_teras:

call tulis_atas_60

call baca_adc

call Bin2Dec

call cek_cahaya_60

call tampil

call tunda_long

djnz r4,start_teras

jmp mulai

Cek_R_tamu:

jb push_2,cek_R_makan

mov r4,#10

start_R_tamu:

call tulis_atas_120_250

call baca_adc

call Bin2Dec

call cek_cahaya_120_250

call tampil

call tunda_long

djnz r4,start_R_tamu

jmp mulai

Cek_R_makan:

jb push_3,cek_R_kerja

mov r4,#10

start_R_makan:

call tulis_atas_120_250

call baca_adc

call Bin2Dec

call cek_cahaya_120_250

call tampil

call tunda_long

djnz r4,start_R_makan

jmp mulai

Cek_R_kerja:

jb push_4,cek_K_tidur

mov r4,#10

start_R_kerja:

call tulis_atas_120_250

call baca_adc

call Bin2Dec

call cek_cahaya_120_250

call tampil

call tunda_long

djnz r4,start_R_kerja

jmp mulai

Cek_K_tidur:

jb push_5,cek_K_mandi

mov r4,#10

start_K_tidur:

call tulis_atas_120_250

call baca_adc

call Bin2Dec

call cek_cahaya_120_250

call tampil

call tunda_long

djnz r4,start_K_tidur

jmp mulai

Cek_K_mandi:

jb push_6,cek_dapur

mov r4,#10

start_K_mandi:

call tulis_atas_250

call baca_adc

call Bin2Dec

call cek_cahaya_250

call tampil

call tunda_long

djnz r4,start_K_mandi

jmp mulai

Cek_dapur:

jb push_7,cek_garasi

mov r4,#10

start_dapur:

call tulis_atas_250

call baca_adc

call Bin2Dec

call cek_cahaya_250

call tampil

call tunda_long

djnz r4,start_dapur

jmp mulai

Cek_garasi:

jb push_8,cek_selesai

mov r4,#10

start_garasi:

call tulis_atas_60

call baca_adc

call Bin2Dec

call cek_cahaya_60

call tampil

call tunda_long

djnz r4,start_garasi

jmp mulai

cek_selesai:

jmp start

d. Mikrokontroler menampilkan data intensitas cahaya ke LCD

Subrutin program ini digunakan untuk menampilkan data ADC melalui Port 0 mikrokontroler, data yang disimpan di RAM internal dipindahkan ke akumulator untuk ditampilkan ke LCD. Penampilan data intensitas cahaya secara berurutan mulai dari bilangan ribuan, ratusan, puluhan, dan satuan. Berikut ini listing programnya :

;konversi data adc ke lcd

;======================================================

tampil:

mov R1,#0c3h

call tulis_inst

mov R1,#’ ‘

call tulis_data

mov R1,#0c4h

call tulis_inst

mov R1,#’=’

call tulis_data

mov R1,#0c5h

call tulis_inst

mov R1,#’ ‘

call tulis_data

mov r1,#0c6h

call tulis_inst

mov DPTR,#RIBUAN ; DPTR = [ribuan]

mov A,DataADC ; A = [DataADC]

movc A,@A+DPTR ; A = [A+DPTR]

mov DPTR,#datane

movc A,@A+DPTR

mov P0,A ; P0 = A

mov r1,a

call tulis_data

mov r1,#0c7h

call tulis_inst

mov DPTR,#RATUSAN ; DPTR = [ratusan]

mov A,DataADC ; A = [DataADC]

movc A,@A+DPTR ; A = [A+DPTR]

mov DPTR,#datane

movc A,@A+DPTR

mov P0,A ; P0 = A

mov r1,a

call tulis_data

mov r1,#0c8h

call tulis_inst

mov DPTR,#PULUHAN ; DPTR = [puluhan ]

mov A,DataADC ; A = [DataADC]

movc A,@A+DPTR ; A = [A+DPTR]

mov DPTR,#datane

movc A,@A+DPTR

mov P0,A ; P0 = A

mov r1,a

call tulis_data

call delay

mov r1,#0c9h

call tulis_inst

mov DPTR,#SATUAN ; DPTR = [satuan]

mov A,DataADC ; A = DataADC

movc A,@A+DPTR ; A =[ A+DPTR]

mov DPTR,#datane

movc A,@A+DPTR

mov P0,A ; P0 = A

mov r1,a

call tulis_data

mov R1,#0cah

call tulis_inst

mov R1,#’ ‘

call tulis_data

mov R1,#0cbh

call tulis_inst

mov R1,#’L’

call tulis_data

mov R1,#0cch

call tulis_inst

mov R1,#’u’

call tulis_data

mov R1,#0cdh

call tulis_inst

mov R1,#’x’

call tulis_data

mov R1,#0ceh

call tulis_inst

mov R1,#’ ‘

call tulis_data

mov R1,#0cfh

call tulis_inst

mov R1,#’ ‘

call tulis_data

ret

Pengujian Alat Keseluruhan

Tahap berikutnya adalah tahap pengujian alat secara keseluruhan, cara pengujian tingkat pencahayaan diukur dengan cara meletakkan alat secara horisontal dengan posisi 75 cm di atas permukaan lantai (Sunarno, 2006). Pengujian dilakukan pada 8 jenis ruangan yang terdapat dalam rumah tinggal menurut SNI. Pengujian ini 8 jenis ruangan ini dibagi menjadi 3 kelompok standar cahaya yang sama yaitu :

1. Pengujian intensitas cahaya ruangan SNI 60 lux untuk ruangan (teras dan garasi).

2. Pengujian intensitas cahaya ruangan SNI (120 – 250) lux untuk ruangan (ruang tamu, ruang makan, ruang kerja, kamar tidur).

3. Pengujian intensitas cahaya ruangan SNI 250 lux untuk ruangan (kamar mandi dan dapur).

Pada saat pertama kali dinyalakan alat akan menampilkan tulisan ‘Silahkan Pilih Tombol Ruangan’ kemudian alat akan menunggu tombol ruangan mana yang ditekan baru kemudian melakukan proses pengambilan data cahaya ruangan. Berikut ini adalah Gambar 11 alat saat pertama kali dinyalakan.

Gambar 11 Tampilan awal

Berikutnya adalah setelah dilakukan penekanan tombol alat akan melakukan konversi cahaya ruangan dan menampilkannya ke LCD. Berikut ini Gambar 12 adalah pengujian terhadap ruangan teras.

Gambar 12 Pengujian pada ruangan teras

Pada Gambar 12 dapat dijelaskan tampilan baris pertama menampilkan data SNI tingkat pencahayaan pada ruangan teras yaitu 60 lux, sedangkan pada baris kedua menampilkan (C.Normal) berarti cahaya teras pada saat dideteksi normal. Dan kemudian kolom berikutnya menampilkan data cahaya (071) yang berarti cahayanya terdeteksi 71 lux. Cahaya 71 Lux masih dikatakan normal karena toleransi alat yang diberikan 20 % jadi, berarti 20 % dari 60 lux adalah 12 Lux sehingga maksimum cahaya yang masih normal adalah 72 Lux.

Pengujian berikutnya adalah pada ruang tamu yang SNI antara 120 – 150 lux . Berikut ini adalah Gambar 13 pengujian pada ruang tamu.

Gambar 13 Pengujian pada ruang tamu

Pada Gambar 13 terlihat baris pertama menampilkan tingkat pencahayaan menurut SNI yang harus dicapai. Kemudian baris menampilkan status cahaya pada saat dideteksi kurang dan nilainya adalah 056 lux.

Pengujian berikutnya adalah masih pada ruang tamu yang SNI antara 120 – 150 lux tetapi intensitas cahayanya ditingkatkan. Berikut ini adalah Gambar 14 pengujian pada ruang tamu yang cahayanya ditingkatkan.

Gambar 14 Pengujian pada ruang tamu

Pada Gambar 14 terlihat baris pertama menampilkan tingkat pencahayaan pada ruang tamu menurut SNI yang harus dicapai. Kemudian baris kedua menampilkan status cahaya pada saat telah dinaikkan terdeteksi melebihi angka 150 lux sehingga tampilannya (C.Lebih) dan nilainya adalah 254 lux.

Pengujian Alat Pada Tiap Ruangan Rumah Tinggal

Berikut ini adalah Tabel – tabel pengujian alat pada masing – masing ruangan dalam rumah tinggal. Cara pengukuran tingkat pencahayaan untuk bidang kerja diukur secara horisontal 75 cm di atas permukaan lantai, ini dikarenakan aktifitas manusia yang sering dilakukan di dalam rumah tinggal dianggap reratanya adalah 75 cm dari atas permukaan lantai (Sunarno, 2006).

Tabel 3 Pengujian pada teras dengan intensitas penerangan

menurut SNI = 60 Lux (toleransi 20%)

No

Ketinggian ruangan

(M)

Jarak lampu ke alat (M)

Waktu pengujian

Jenis lampu yang digunakan

Intensitas cahaya yang terdeteksi(Lux)

Keterangan

Cahaya

1

3

2

19.00 – 19.15 WIB

Lampu A 11 Watt

72

Normal

2

3

2

19.00 – 19.15 WIB

Lampu A 11 Watt

72

Normal

3

3

2

19.00 – 19.15 WIB

Lampu A 11 Watt

72

Normal

4

3

2

19.00 – 19.15 WIB

Lampu A 11 Watt

71

Normal

5

3

2

19.00 – 19.15 WIB

Lampu A 11 Watt

72

Normal

6

3

2

19.00 – 19.15 WIB

Lampu A 11 Watt

64

Normal

7

3

2

19.00 – 19.15 WIB

Lampu A 11 Watt

61

Normal

8

3

2

19.00 – 19.15 WIB

Lampu A 11 Watt

66

Normal

9

3

2

19.00 – 19.15 WIB

Lampu A 11 Watt

71

Normal

10

3

2

19.00 – 19.15 WIB

Lampu A 11 Watt

66

Normal

Tabel 4 Pengujian pada ruang tamu dengan intensitas penerangan

menurut SNI = 120 – 150 Lux

No

Ketinggian ruangan

(M)

Jarak lampu ke alat

(M)

Waktu pengujian

Jenis lampu yang digunakan

Intensitas cahaya yang terdeteksi

(Lux)

Keterangan

Cahaya

1

3

1,8

19.15 – 19.30 WIB

Lampu A 23 Watt

136

Normal

2

3

1,8

19.15 – 19.30 WIB

Lampu A 23 Watt

132

Normal

3

3

1,8

19.15 – 19.30 WIB

Lampu A 23 Watt

136

Normal

4

3

1,8

19.15 – 19.30 WIB

Lampu A 23 Watt

146

Normal

5

3

1,8

19.15 – 19.30 WIB

Lampu A 23 Watt

146

Normal

6

3

1,8

19.15 – 19.30 WIB

Lampu A 23 Watt

146

Normal

7

3

1,8

19.15 – 19.30 WIB

Lampu A 23 Watt

146

Normal

8

3

1,8

19.15 – 19.30 WIB

Lampu A 23 Watt

146

Normal

9

3

1,8

19.15 – 19.30 WIB

Lampu A 23 Watt

141

Normal

10

3

1,8

19.15 – 19.30 WIB

Lampu A 23 Watt

141

Normal

Tabel 5 Pengujian pada ruang makan dengan intensitas penerangan

menurut SNI = 120 – 250 Lux

No

Ketinggian ruangan

(M)

Jarak lampu ke alat

(M)

Waktu pengujian

Jenis lampu yang digunakan

Intensitas cahaya yang terdeteksi

(Lux)

Keterangan

Cahaya

1

2,5

1,8

19.30 – 19.45 WIB

Lampu A 15 Watt

132

Normal

2

2,5

1,8

19.30 – 19.45 WIB

Lampu A 15 Watt

136

Normal

3

2,5

1,8

19.30 – 19.45 WIB

Lampu A 15 Watt

132

Normal

4

2,5

1,8

19.30 – 19.45 WIB

Lampu A 15 Watt

132

Normal

5

2,5

1,8

19.30 – 19.45 WIB

Lampu A 15 Watt

132

Normal

6

2,5

1,8

19.30 – 19.45 WIB

Lampu A 15 Watt

132

Normal

7

2,5

1,8

19.30 – 19.45 WIB

Lampu A 15 Watt

132

Normal

8

2,5

1,8

19.30 – 19.45 WIB

Lampu A 15 Watt

127

Normal

9

2,5

1,8

19.30 – 19.45 WIB

Lampu A 15 Watt

127

Normal

10

2,5

1,8

19.30 – 19.45 WIB

Lampu A 15 Watt

127

Normal

Tabel 6 Pengujian pada ruang kerja dengan intensitas penerangan

menurut SNI = 120 – 250 Lux

No

Ketinggian ruangan

(M)

Jarak lampu ke alat

(M)

Waktu pengujian

Jenis lampu yang digunakan

Intensitas cahaya yang terdeteksi

(Lux)

Keterangan

Cahaya

1

3

2

19.45 – 20.00 WIB

Lampu B 20 Watt

141

Normal

2

3

2

19.45 – 20.00 WIB

Lampu B 20 Watt

136

Normal

3

3

2

19.45 – 20.00 WIB

Lampu B 20 Watt

141

Normal

4

3

2

19.45 – 20.00 WIB

Lampu B 20 Watt

141

Normal

5

3

2

19.45 – 20.00 WIB

Lampu B 20 Watt

141

Normal

6

3

2

19.45 – 20.00 WIB

Lampu B 20 Watt

141

Normal

7

3

2

19.45 – 20.00 WIB

Lampu B 20 Watt

136

Normal

8

3

2

19.45 – 20.00 WIB

Lampu B 20 Watt

138

Normal

9

3

2

19.45 – 20.00 WIB

Lampu B 20 Watt

138

Normal

10

3

2

19.45 – 20.00 WIB

Lampu b 20 Watt

141

Normal

Tabel 7 Pengujian pada ruang tidur dengan intensitas penerangan

menurut SNI = 120 – 250 Lux

No

Ketinggian ruangan

(M)

Jarak lampu ke alat

(M)

Waktu pengujian

Jenis lampu yang digunakan

Intensitas cahaya yang terdeteksi

(Lux)

Keterangan

Cahaya

1

3

1,5

20.00 – 20.15 WIB

Lampu A 18 Watt

169

Normal

2

3

1,5

20.00 – 20.15 WIB

Lampu A 18 Watt

174

Normal

3

3

1,5

20.00 – 20.15 WIB

Lampu A 18 Watt

165

Normal

4

3

1,5

20.00 – 20.15 WIB

Lampu A 18 Watt

174

Normal

5

3

1,5

20.00 – 20.15 WIB

Lampu A 18 Watt

174

Normal

6

3

1,5

20.00 – 20.15 WIB

Lampu A 18 Watt

179

Normal

7

3

1,5

20.00 – 20.15 WIB

Lampu A 18 Watt

184

Normal

8

3

1,5

20.00 – 20.15 WIB

Lampu A 18 Watt

188

Normal

9

3

1,5

20.00 – 20.15 WIB

Lampu A 18 Watt

169

Normal

10

3

1,5

20.00 – 20.15 WIB

Lampu A 18 Watt

155

Normal

Tabel 8 Pengujian pada kamar mandi dengan intensitas penerangan

menurut SNI = 250 Lux (toleransi 20%)

No

Ketinggian ruangan

(M)

Jarak lampu ke alat

(M)

Waktu pengujian

Jenis lampu yang digunakan

Intensitas cahaya yang terdeteksi

(Lux)

Keterangan

Cahaya

1

2,5

1,8

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 40 Watt

273

Normal

2

2,5

1,8

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 40 Watt

273

Normal

3

2,5

1,8

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 40 Watt

278

Normal

4

2,5

1,8

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 40 Watt

271

Normal

5

2,5

1,8

20.15 – 20.30 WIB

Lampu DOP 40 Watt

264

Normal

6

2,5

1,8

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 40 Watt

268

Normal

7

2,5

1,8

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 40 Watt

271

Normal

8

2,5

1,8

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 40 Watt

278

Normal

9

2,5

1,8

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 40 Watt

271

Normal

10

2,5

1,8

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 40 Watt

264

Normal

Tabel 9 Pengujian pada dapur dengan intensitas penerangan

menurut SNI = 250 Lux (toleransi 20%)

No

Ketinggian ruangan

(M)

Jarak lampu ke alat

(M)

Waktu pengujian

Jenis lampu yang digunakan

Intensitas cahaya yang terdeteksi

(Lux)

Keterangan

Cahaya

1

2,5

1,8

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 40 Watt

278

Normal

2

2,5

1,8

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 40 Watt

273

Normal

3

2,5

1,8

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 40 Watt

259

Normal

4

2,5

1,8

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 40 Watt

259

Normal

5

2,5

1,8

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 40 Watt

254

Normal

6

2,5

1,8

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 40 Watt

278

Normal

7

2,5

1,8

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 40 Watt

271

Normal

8

2,5

1,8

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 40 Watt

268

Normal

9

2,5

1,8

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 40 Watt

264

Normal

10

2,5

1,8

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 40 Watt

278

Normal

Tabel 10 Pengujian pada garasi dengan intensitas penerangan

menurut SNI = 60 Lux (toleransi 20%)

No

Ketinggian ruangan

(M)

Jarak lampu ke alat

(M)

Waktu pengujian

Jenis lampu yang digunakan

Intensitas cahaya yang terdeteksi

(Lux)

Keterangan

Cahaya

1

3

2

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 11 Watt

71

Normal

2

3

2

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 11 Watt

61

Normal

3

3

2

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 11 Watt

71

Normal

4

3

2

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 11 Watt

71

Normal

5

3

2

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 11 Watt

66

Normal

6

3

2

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 11 Watt

61

Normal

7

3

2

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 11 Watt

71

Normal

8

3

2

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 11 Watt

66

Normal

9

3

2

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 11 Watt

66

Normal

10

3

2

20.15 – 20.30 WIB

Lampu A 11 Watt

61

Normal

Setelah diperoleh dari masing – masing pengujian terhadap ruangan dalam rumah tinggal, dapat disimpulkan bahwa ketinggian ruangan akan mempengaruhi penentuan jenis lampu yang akan digunakan. Jika tinggi ruangan rendah maka lampu yang dibutuhkan dayanya tidak terlalu besar untuk mencapai standar (SNI), sedangkan jika ruangan memiliki ketinggian yang lebih maka daya lampu juga akan besar untuk mencapai standar (SNI).

Download Program alat-pengatur-recomendasi-cahaya

Posted on: 05-31-2010
Posted in: Application

Alat pengatur Recomendasi Cahaya III Comments Off

Perancangan Perangkat Lunak Mikrokontroler AT89S52

Agar mempermudah dalam penulisan dan pembuatan program, maka langkah awalnya adalah membuat diagram alir (flow chart) pada Gambar 10 dari alat yang akan dibuat. Diagram alir ini merupakan panduan dalam pembuatan program sehingga hasilnya dapat sesuai dengan yang diharapkan.

Posted on: 05-31-2010
Posted in: Application

Alat pengatur Recomendasi Cahaya II Comments Off

Sistem Minimum Mikrokontroler

Mikrokontroler merupakan komponen utama yang mengendalikan seluruh sistem. Mikrokontroler yang digunakan pada penelitian ini adalah mikrokontroler keluaran Atmel dengan seri AT89S52. Seri ini merupakan varian baru dari keluarga AT89C51 yang mengalami perubahan prosedur pengisian program. Pada seri ini memiliki fasilitas ISP (In System Programming) yang tidak dimiliki pada seri sebelumnya. Fasilitas ini memungkinkan pengubahan isi program walaupun sistem sedang berjalan.

Read More

Posted on: 05-31-2010
Posted in: Application

Alat pengatur Recomendasi Cahaya I Comments Off

Dalam perencanaan sistem pencahayaan bangunan diperhitungkan berbagai kondisi internal dan eksternal bangunan. Kondisi eksternal yang lebih banyak dipengaruhi oleh alam sekitar dapat menjadi faktor yang memudahkan ataupun menyulitkan perencanaan sistem pencahayaan terutama untuk aspek konservasi. Kondisi internal berupa bentuk, arsitektur bangunan, daya listrik pendukung, dan lain – lain. Berbagai masalah yang dihadapi ini harus dioptimalkan dengan berbagai solusi teknis terutama penggunaan pencahayaan buatan. Berikut ini adalah Tabel 1 rekomendasi tingkat pencahayaan menurut SNI (Standar Nasional Indonesia) 03-6197-2000.

Read More

Posted on: 05-31-2010
Posted in: Application

Pengukur Kuat Cahaya Digital Comments Off

Pada alat pengukuran kuat cahaya digital ini, terdapat dua bagian elektronika yang dipakai yaitu analog dan terus dikonversikan ke digital, bagian analog ini mencakup sensor kuat cahaya atau fotoelemen beserta penguat untuk membedakan tegangan yang dihasilkan. Pada bagian digital, yaitu menggunakan mikrokontrol sebagai pembanding dan pengolahan dan selanjutnya penampil pada seven segment atau LCD sebagai informasi jumlah akhir yang dihasilkan dari pengukuran kuat cahaya.

Read More

Posted on: 01-5-2009
Posted in: Application

Sistem Telemetri Suhu dan Intensitas Cahaya Comments Off

Mekanisme Kerja Alat

Sistem telemetri pada penelitian ini adalah sistem pengukuran jarak jauh dengan media transmisi gelombang radio, parameter pengukurannya adalah suhu dan intensitas cahaya. Parameter-parameter pengukuran tersebut dimanfaatkan untuk pemantauan cuaca pada suatu daerah. Parameter suhu digunakan untuk mengetahui suhu lingkungan dan parameter cahaya digunakan untuk mengetahui intensitas cahaya matahari. Alat ini terdapat dua modul yaitu pertama adalah modul yang penulis istilahkan sebagai modul stasiun. Modul yang kedua penulis istilahkan sebagai modul stasiun pemantau. Masing-masing modul memiliki fungsi sebagai pengirim dan penerima data sehingga alat ini memiliki sistem komunikasi dua arah.

Akan tetapi yang lebih spesifik fungsi dari modul stasiun pemantau adalah untuk memperoleh data hasil pengukuran sensor suhu dan sensor cahaya yang dilakukan oleh modul stasiun ukur. Urutan kerja pertama adalah pada penampil LCD M1632 akan menampilkan menu utama, sehingga pengukur dapat memilih dengan menekan tombol S1 untuk pengukuran suhu dan tombol S2 untuk pengukuran intensitas cahaya. Setelah menekan salah satu tombol tersebut maka modul stasiun pemantau akan mengirimkan ID sesuai dengan pengukuran yang diinginkan (000 untuk sensor suhu dan 111 untuk sensor cahaya) dan kemudian stasiun pemantau akan memberikan waktu tertentu (60 menit) untuk menunggu jawaban dari modul stasiun ukur.

Jika waktu yang telah ditentukan habis maka modul stasiun pemantau akan membandingkan data jawaban dari stasiun ukur dengan data ID yang dikirimkan, jika tidak sama maka stasiun pemantau akan menampilkan pesan “suhu/cahaya is not ready”. Akan tetapi jika sama stasiun modul pemantau akan meminta data kepada stasiun ukur untuk ditampilkan ke penampil LCD M1632. Kemudian setelah itu program akan kembali ke menu utama. Waktu yang dibutuhkan dari penekanan tombol sampai stasiun pemantau menampilkan hasil pengukuran sensor ke penampil LCD M1632 sekitar 30 sampai 60 detik. Untuk melihat sistem dari modul stasiun pemantau lihat gambar 3.13 flowchart modul stasiun pemantau pada bab tiga.

Fungsi dari modul stasiun ukur adalah untuk melakukan proses pengukuran suhu dan intensitas cahaya dan selanjutnya data yang telah diperoleh dengan prinsip akuisisi data dikirimkan ke stasiun pemantau. Urutan cara kerjanya adalah pertama stasiun pemantau akan melakukan inisialisasi serial kemudian memeriksa apakah ada interrupt, jika tidak ada maka modul stasiun ukur akan terus melakukan konversi ADC dan kemudian menampilkannya ke LED. Tetapi jika terdapat interrupt maka modul stasiun ukur akan memeriksa ID yang dikirimkan oleh modul stasiun pemantau, apakah ID tersebut sama dengan ID yang diterima (multiplekser analog). Jika tidak sama maka program akan memeriksa kembali apakah ada interrupt. Namun jika sama maka stasiun ukur akan membalas ready ke stasiun pemantau dan kemudian menunggu sampai stasiun pemantau meminta data pengukuran sensor selanjutnya. Jika master telah meminta data ke stasiun ukur maka akan melakukan konversi ADC dan menampilkannya ke LED yang dilanjutkan dengan mengirimkannya ke stasiun pemantau.

Berikut ini adalah penjabaran langkah perakitan dari masing-masing rangkaian.

Perakitan Sensor Suhu

Dalam perakitan sensor suhu ada 3 langkah yang dijalankan yang pertama pengujian karakteristik sensor LM35, perancangan dan pengujian sensor suhu.Uji karakteristik sensor LM35 dilakukan dengan cara memberikan tegangan sebesar 5 volt pada LM35, kemudian pin keluaran LM35 dihubungkan ke multimeter untuk mengetahui tegangan yang dihasilkan dari pemberian suhu pada LM35 dengan cara pemberian es dan solder. Pengujian karakteristik dari LM35 adalah untuk mengetahui kecenderungan secara fisis dari sensor LM35. Berikut ini adalah gambar dari blok diagram uji karakteristik sensor LM35.

Gambar. Diagram pengujian karakteristik LM35

Sensor LM35 memiliki kelebihan-kelebihan diantaranya pengkalibrasiannya langsung dalam celcius, sehingga akan memudahkan perancangan telemetri untuk parameter suhu. Tegangan suplai (Vs) LM35 adalah sebesar 5 Volt dengan harapan respon ideal LM35 akan menghasilkan kenaikan suhu 1oC yang memiliki perubahan tegangan setiap kenaikannya sebesar 10 mVolt. Pada penelitian ini ditentukan jangkauan suhu pengukuran antara 0 oC sampai 100 oC.

Di ambil nilai R1 sebesar 3 K?, maka nilai R2 12 K?, berikut ini adalah gambar rangkaian sensor suhu LM35 dan penguat LM358 :

Gambar Rangkaian Sensor suhu LM35 dan penguat LM358

Potensio (P1) pada rangkaian diatas adalah sebagai pengganti dari R1 sebesar 3 K?. Tegangan op-amp sebesar 5 volt sehingga dioda zener Dz dan R = 330? berfungsi untuk menjaga agar batas maksimum tegangan hanya mencapai 5 volt. Hal ini dirancang untuk melindungi ADC0804 dari tegangan lebih.

Pengujian sensor suhu dan penguat dilakukan setelah semua rangkaian sudah dirangkai sehingga sebelum sensor suhu di pasang secara keseluruhan terlebih dahulu di lakukan pengujian agar dapat diketahui tegangan keluaran setelah diberikan penguatan oleh penguat LM358, berikut ini adalah gambar blok diagram pengujian sensor LM35 dan penguat LM358.

Gambar Blok diagram pengujian sensor LM35 dan penguat LM358

Rangkaian diuji untuk mengetahui karakteristik rangkaian sensor secara keseluruhan dengan menggunakan sumber suhu adalah es dan solder, kemudian hasil pembacaanya dibandingkan dengan temometer digital merk Goodwill seri GDM 393A.

Selanjutnya Baca…….

Posted on: 12-30-2008
Posted in: Application

Cahaya Infra Merah Comments Off

Cahaya adalah bentuk radiasi elektromagnetik yang dapat memberi efek terhadap retina mata atau sensor–sensor optis. Panjang gelombang elektromagnetik yang dapat dilihat oleh mata manusia termasuk dalam istilah cahaya.

Read More

Posted on: 12-26-2008
Posted in: Electronics

Categories

Design and production electronic system
Categories
  • Application
  • Article
  • Download
  • Electronics
  • Microcontroller
  • Pinouts
  • Schematic
Galleries
  • Portfolio 1 Column
  • Portfolio 2 Columns
  • Portfolio 3 Columns
  • Portfolio 4 Columns
  • Galleria Shortcodes
  • Image Shortcodes
Product
  • Jadwal Waktu Sholat
  • Bel Sekolah Otomatis
  • Bel Cerdas Cermat
  • Jam Digital
  • Moving Sign
  • Scoreboard
ABOUT
  • About Us
  • Contact
  • Services
  • Showroom
    Jl. Wates KM.10 Bantul Yogyakarta 0274 6498 534 0821 3814 1118 shatomedia@gmail.com
    Count per Day
    • 37Visitors today:
    Contact
  • Agus Qurniadhi
  • Sindhu Harimukti
  • Safiq Rosyad
  • Sutarman
  • © 2012 SHATOMEDIA. All Rights Reserved