Metronome
Dalam memainkan sebuah irama suara musik, tidaklah bisa terlepas dari sebuat beat, beat adalah unsur pokok yang menjadikan jatuhnya tempo ketukan terjadi. Sedangkan tempo merupakan waktu atau jarak panjang gelombang untuk dapat menentukan letak nada secara tepat.
Penentuan ukuran tempo yang sering digunakan adalah Bpm (Beat per Minute), Bpm adalah banyaknya ketukan dalam satu menit. Jika dalam suatu tempo lagu adalah 100 Bpm, artinya dalam satu menit ada 100 ketukan. Semakin besar nilai Bpm, semakin cepat temponya.
Metronome erat kaitanya dengan tempo, karena metronom akan berbunyi pada setiap beat lagu. Jadi metronome berguna agar sebuah lagu sesuai pada temponya. Jadi Metronome bisa dikatakan sebagai penghasil bunyi dan jatuhnya setiap bunyi yang tepat pada tempo.
PERENCANAAN ALAT
Metronome sangat erat hubunganya dengan tempo, sedangkan tempo berhubungan dengan waktu dan bunyi bep yang dihasilkan ditimbulkan oleh sebuah pembangkit gelombang, hal ini berkaitan lagi dengan waktu. Karena perangkat utama yang diperlukan untuk membangun sebuah alat metronom adalah pewaktu, maka komponen yang tepat adalah komponen yang mempunyai kemampuan menghasilkan Timer yang dapat memenuhi kebutuhan dari metronome tersebut, yaitu Mikrokontroler. Gambar 1.
Mikrokontroler yang digunakan adalah Mikrokontroler keluarga MCS-51, dalam hal ini gunakan AT89C2051 buatan ATMEL. Mikrokontroler AT89C2051 ini merupakan versi mini (berkaki 20 pin) dari Mikrokontroler AT89C51 yang berkaki 40 pin. Mikrokontroler AT89C2051 merupakan mikrokontroler CMOS 8 bit dengan 2K byte Flash Programmable And Erasable Read Only Memory (PEROM). Kemampuan Mikrokontroler AT89C2051 yang lain adalah meliputi 128 byte RAM, 15 saluran I/O (input-output), 2 buah timer/counter 16 bit, 5 vektor 2 level interupsi, full duplek port serial, comparator analog, serta rangkaian clock dan osilator. Gambar 2.
Pada aplikasi metronome ini, besarnya Bpm yang digunakan dibatasi dari 100 Bpm sampai dengan 200 Bpm dan nilai pemilihan besarnya Bpm berkelipatan 10 dari 100 ke 200, yaitu: 100, 110, 120, 130, 140, 150, 160, 170, 180, 190, 200.
Untuk bisa membedakan dan memilih besarnya Bpm yang digunakan, maka pada metronome ini digunakan indikator dari sebuah LED (Light Emiter Dioda). Sedangkan kebutuhan untuk memilih dari besarnya Bpm yang digunakan adalah dua buah push button.
Fungsi dari kedua pushbutton adalah push button 1 digunakan untuk memilih besarnya Bpm dan Push Button 2 digunakan untuk mereset sistem dan sebagai tombol stop, sehingga sistem akan berkondisi seperti awal lagi.
Lampu indikator LED sebanyak 10 buah yang tersambung dengan Mikrokontroler pada port P1.0 sampai P1.7 karena metronom ini hanya menangani 10 pilihan besarnya Bpm yang digunakan, untuk pengembangan dari aplikasi ini bisa juga digunakan seven segment sebagai indikatornya, sehingga pengguna bisa langsung melihat besarnya Bpm yang dipilih.
Karena pada aplikasi ini metronome yang dibuat diusahakan seringkas mungkin, maka pada penguat gelombang sebagai hasil output dari metronom ini digunakan penguat yang sederhana yaitu dengan menggunakan satu buah transistor dan rangkaian R lainya.
Kerja transistor hanya pada titik saturasi dan titik cut off, sehingga bisa dikatakan seperti cara kerja dari transistor sebagai saklar, karena metronom ini diaplikasikan dengan menggunakan headset yang ber impedensi 8 ohm .
Hasil output dari transistor yaitu antara Vcc dengan colektor dapat juga langsung terhubung dengan sebuah amplifier. Dengan konfigurasi ini, maka alat dapat dibuat ringkas dan hanya membutuhkan tempat sebesar kotak korek api, hanya saja bermasalha pada penempatan baterai, karena tegangan yang diperlukan metronom ini sebasar 5 Volt/20mA, maka digunakan baterai kotak yang mempu menyediakan tegangan 9 Volt, dengan menggunakan baterai kotak ini, maka dibutuhkan sebuah rangkaian seperti LM7805 digunakan untuk meregulasi tegangan dan arus dari baterai sekaligus menyesuaikan level tegangan 89C2051.










